Rasulullah SAW Hijrah
~13 min baca
Tatkala usaha pencarian sudah mulai mengendor dan setelah tiga hari gejolak orang-orang Quraisy sudah menurun, tanpa membawa hasil apa pun, Rasulullah SAW dan rekannya bersiap-siap untuk pergi ke Madinah. Mereka berdua mengupah Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan yang sudah matang dan mengetahui seluk beluk jalan. Sekalipun dia masih memeluk agama orang-orang kafir Quraisy, namun mereka berdua mempercayainya dan menyerahkan dua ekor onta kepadanya.
Setelah tiga malam berada di gua, dia diminta datang ke gua dengan membawa dua ekor onta itu. Maka pada malam Senin, 16 September tahun 622 M, Abdullah bin Uraiqith datang ke gua. Pada saat itu Abu Bakar berkata, "Demi ayahku menjadi jaminan, wahai Rasulullah SAW , ambilah satu ontaku ini." Dia memilih onta yang paling bagus untuk beliau.
Asma' binti Abu Bakar datang sambil membawa rangsum makanan untuk perjalanan mereka berdua. Namun rupanya dia tidak lupa membawa tali untuk mengikat rangsum itu. Oleh karena itu selagi beliau dan Abu Bakar sudah naik ke atas punggung onta, dan Asma hendak mengikatkan rangsum makanan, maka dia tidak mendapatkan tali pada rangsum itu.
Dia segera melepas kain ikat pinggangnya (nithaq) dan menyobeknya menjadi dua bagian. Satu bagian dipergunakan untuk mengikat rangsum makanan dan satu bagian dia pergunakan sebagai ikat pinggang lagi. Karena itu dia dijuluki Dzatun-Nithaqain (wanita yang memiliki dua bagian ikat pinggang).
Selanjutnya Rasulullah SAW berangkat bersama Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah. Abullah bin Uraiqith yang menjadi penunjuk jalan mengambil jalan pesisir. Jalan yang pertama kali ditempuh adalah ke arah selatan menuju jalan Yaman, baru setelah itu mengarah ke barat menuju pesisir, hingga setelah tiba di jalan yang tidak biasa dilalui orang, perjalanan diarahkan ke utara di dekat pesisir Laut Merah.
Ini merupakan perjalanan yang jarang dilalui orang. Ibnu Ishaq telah menyebutkan tempat-tempat yang dilalui Rasulullah SAW dalam perjalanan ini. Dia berkata, "Tatkala penunjuk jalan pergi bersama mereka berdua, dia mengambil jalan di bagian dataran Makkah yang rendah, menuju ke daerah pesisir laut hingga tiba di Usfan, terus melewati dataran rendah Amaj.
Abdullah bin Uraiqith meminta izin tentang jalan yang hendak dilalui. Maka dia terus menuntun perjalanan setelah diberi izin untuk melewati Qudaid. Perjalanan diteruskan melewati Al-Harrar, Tsaniyyatul-Mararah, Liqfa, Madlajah Liqf, Madlajah Majah, Marijih Mahaj, Marijih Dzil-Ghadhwain, Dzi Kasyr,Al-Jadaid, Al-Ajrad, Dzu Salam, Madlajah Ti'hin, Al-Ababid, Al-Fajjah, Al-Arj, Tsaniyyatul-A'ir dari arah kanan Rakubah, Ri'm, lalu tiba di Quba Inilah beberapa kejadian di tengah perjalanan: 1.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, dia berkata, "Semalaman kami mengadakan perjalanan nonstop hingga tengah hari. Jalanan sepi dan tak seorang pun yang lewat di sana. Kami mendapatkan batu besar.
Di sisinya tidak terkena sinar matahari sehingga bisa untuk berteduh. Kami singgah di tempat itu. Aku meratakan tempat dengan tanganku untuk dipergunakan tidur, kuhamparkan kain kerudung kepala dan kukatakan, "Tidurlah wahai Rasulullah SAW , biar kutiup di sekitar engkau." Maka beliau pun tidur dan aku meniup-niup di sekitarnya.
Tiba-tiba aku melihat seorang penggembala mendatangi tempatku, batu besar ini, juga dengan maksud untuk berteduh. "Engkau penggembala milik siapa?" aku bertanya. "Seseorang dari penduduk Madinah," atau dia menjawab, "Seseorang dari penduduk Makkah." "Apakah di antara domba-dombamu ada yang susunya bisa diperah?" "Ada," jawab penggembala.
"Apakah engkau mau memerahnya?" "Bisa," jawabnya sambil mengambil seekor domba. "Tiuplah susunya agar bersih dari debu, rambut dan kotorannya," kataku. Penggembala itu memerah susu dan aku membawakan sekantong air untuk minum dan wudhu.
Kudatangi Nabi yang masih tidur. Aku merasa enggan untuk membangunkan beliau. Aku menyodorkannya setelah beliau bangun.
Kutuangkan air ke susu agar bawahnya menjadi dingin. "Minumlah wahai Rasulullah SAW !" Maka beliau minum dan aku pun merasa puas. "Bukankah sekarang sudah tiba saatnya untuk melanjutkan perjalanan?" Beliau bertanya.
"Ya," jawabku. Maka kami pun melanjutkan perjalanan. 2. Di antara kebiasaan Abu Bakar adalah membonceng di belakang Nabi Sementara dia adalah orang tua yang sudah banyak dikenal, sedangkan beliau lebih muda dan belum banyak dikenal orang.
Di tengah perjalanan itu ada seorang laki-laki bertanya kepada Abu Bakar, "Siapakah orang yang di depanmu itu?" Abu Bakar menjawab, "Dia adalah orang yang menunjukkan jalan kepadaku." Orang itu mengira bahwa yang dimaksudkan adalah penunjuk perjalanan. Padahal yang dimaksudkan Abu Bakar adalah jalan kebaikan. 3. Perjalanan mereka sempat dibuntuti Suraqah bin Malik.
Suraqah menuturkan, "Tatkala aku sedang duduk mengikuti sebuah pertemuan yang diselenggarakan kaumku, Bani Mudlij, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaumku yang mendatangi tempatku. Sementara kami semuanya sedang duduk-duduk. Orang itu berkata kepadaku, "Wahai Suraqah, sesungguhnya tadi aku melihat beberapa orang yang mengadakan perjalanan di pesisir.
Kupikir dia adalah Muhammad dan rekan-rekannya." Aku yakin memang yang dimaksudkan orang ini adalah Muhammad dan rekan-rekannya. Namun kukatakan kepadanya, "Itu bukan mereka. Yang engkau lihat itu hanyalah Fulan dan Fulan yang pergi agar tidak kita lihat." Aku tetap berada dalam pertemuan itu untuk beberapa saat.
Tak lama kemudian aku bangkit dan pulang ke rumah. Kusuruh pembantuku untuk mengeluarkan kuda dari belakang bukit dan menungguku di sana hingga aku datang. Kuambil tombak dan aku keluar rumah dari pintu belakang hingga tiba di tempat kudaku.
Kupacu kudaku dengan kencang. Namun tatkala aku sudah mendekati Muhammad dan rekan-rekannya, kudaku tergelincir dan aku pun terpental jatuh. Aku segera bangkit lagi.
Kupungut kantong anak panah dan kukeluarkan anak panah, namun aku ragu-ragu menggunakannya, aku harus membidiknya ke arah mereka atau tidak. Kunaiki lagi kudaku dan kupacu lagi hingga jarakku dengan merekа menjadi dekat. Tatkala bisa kudengar bacaan Rasulullah SAW yang sama sekali tidak menoleh ke arah belakang, sementara Abu Bakar terus-menerus menoleh, tiba-tiba kedua kaki kudaku yang depan terperosok ke dalam pasir hingga ke lutut.
Aku turun dari punggung kuda dan kucambuki kudaku agar mau bangun. Namun ia tidak bisa mengeluarkan kaki depannya dari pasir. Tatkala kudaku bisa mengeluarkan kakinya dari pasir dan bisa berdiri lagi, maka bersamaan dengan itu banyak debu yang bertaburan di udara.
Aku ragu-ragu untuk menggunakan anak panahku. Ini adalah sesuatu yang sangat kubenci. Aku pun tidak berdaya dan berseru kepada mereka agar aku tidak diapa-apakan.
Mereka pun berhenti. Aku menaiki kudaku dan menghampiri mereka. Kubayangkan, pasti mereka akan menahan diriku dan Rasulullah SAW bisa berbuat apa pun.
Kukatakan kepada Rasulullah SAW , "Sesungguhnya kaummu menyiapkan hadiah besar untuk bisa menangkap engkau." Kukabarkan pula apa saja yang dilakukan orang-orang. Lalu kutawarkan perbekalan dan harta kepada mereka, namun mereka tidak memperdulikan tawaranku ini. Mereka tidak meminta apa-apa kepadaku, selain hanya berkata, "Rahasiakan perjalanan kami." Lalu aku meminta tulisan yang bisa menjamin keamanan diriku.
Untuk itu Amir bin Fuhairah diperintahkan untuk menuliskannya di sebuah lembaran kulit. Setelah itu Rasulullah SAW melanjutkan perjalanannya." Dalam riwayat dari Abu Bakar, dia berkata, "Kami melanjutkan perjalanan dan orang-orang berusaha mencari kami. Namun tak seorang pun yang bisa menemukan kami, kecuali Suraqah bin Malik bin Ju'syum dengan menaiki kudanya.
"Rupanya ada yang menemukan kita wahai Rasulullah SAW ," kataku. Beliau bersabda, "Janganlah engkau takut. Sesungguhnya Allah beserta kita." Akhirnya Suraqah pulang dan mendapatkan orang-orang masih berusaha mencari.
Maka dia berkata, "Aku tidak memperoleh kabar apa-apa untuk kalian. Lebih baik kalian diam saja di sini." Begitulah Suraqah, yang pada pagi harinya bersemangat mencari Rasulullah SAW ,namun pada sore harinya dia menjaga beliau. 4. Beliau melanjutkan perjalanan hingga melewati tenda Ummu Ma'bad.
Dia adalah seorang wanita yang terkenal sabar dan tekun, duduk di serambi tendanya, memberi makan dan minum kepada siapa pun yang melewati tendanya. Maka saat melewatinya Rasulullah SAW dan Abu Bakar meminta sesuatu yang ada padanya. "Demi Allah, andaikan kami mempunyai sesuatu, tentulah kalian tidak kesulitan mendapatkan suguhan.
Sementara domba-domba itu tidak ada yang mengandung dan ini adalah tahun paceklik," kata Ummu Ma'bad. Rasulullah SAW memandangi seekor domba betina di samping tenda. Beliau bertanya, "Ada apa dengan domba betina ini wahai Ummu Ma'bad?" "Itu adalah domba betina yang sudah tidak lagi melahirkan anak," jawabnya.
"Apakah ia masih mengeluarkan air susu," tanya beliau. "Ia sudah terlalu tua untuk itu," jawabnya. "Apakah engkau mengizinkan bila aku memerah susunya?" "Boleh, demi ayah dan ibuku," jawab Ummu Ma'bad, "jika memang engkau melihat domba itu masih bisa diperah susunya, maka perahlah!" Beliau mengusap kantong kelenjar susu domba itu dengan menyebut asma Allah dan berdoa.
Seketika itu kantong kelenjarnya menggelembung dan membesar. Beliau meminta bejana milik Ummu Ma'bad, lalu memerah susunya dan menadahi dengan bejana itu. Susu itu beliau berikan kepada Ummu Mabad, yang langsung meminumnya hingga kenyang.
Beliau juga memberikan susu itu kepada rekan-rekannya hingga mereka kenyang, baru kemudian beliau sendiri yang minum. Kemudian beliau memerah susu lagi hingga bejana itu penuh, lalu meninggalkannya untuk Ummu Ma'bad. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Tak seberapa lama kemudian suaminya datang sambil menggiring domba-domba yang kurus dan lemah. Dia tak sanggup menutupi keheranannya tatkala melihat ada air susu di samping istrinya. "Dari mana ini?" tanya Abu Ma'bad," padahal domba-domba itu mandul tidak lagi mengadung dan tidak lagi bisa diperah di dalam rumah." "Tidak, demi Allah.
Tadi ada seorang laki-laki yang lewat membawa barakah, bicaranya begini dan begini, keadaannya begini dan begini." "Demi Allah, itu adalah seorang dari kabilah Quraisy yang sedang mereka cari-cari. Katakanlah kepadaku wahai Ummu Ma'bad bagaimana ciri-cirinya!" Maka Ummu Ma'bad menyebutkan ciri-ciri beliau secara jelas, seakan-akan orang yang mendengarnya bisa melihatnya secara langsung. Tentang sifat-sifat beliau ini akan kami paparkan di bagian akhir tulisan ini.
Abu Ma'bad berkata, "Demi Allah, dia adalah orang Quraisy yang agamanya selalu mereka sebut-sebut. Sebenarnya aku ingin sekali ikut besertanya, dan aku benar-benar akan melaksanakannya jika ada jalan untuk itu." Pada saat itu terdengar suara nyaring di Makkah, yang bisa didengar penduduk Makkah, namun mereka tidak tahu siapa yang mengucapkannya. Suara itu adalah: "Allah Penguasa Arsy melimpahkan pahala yang terbaik dua orang yang lemah lembut lewat di tenda Ummu Ma'bad mereka melanjutkan perjalanan setelah singgah barang sejenak sungguh beruntunglah orang yang selalu menyertai Muhammad ceritakanlah apa yang disingkirkan Allah dari kalian karena perbuatan orang-orang yang tidak mendapat balasan Bani Kab benar-benar menjadi hina karena anak-anak gadisnya tanah yang subur adalah tempat duduk bagi mereka yang percaya tanyalah saudari kalian tentang domba dan bejananya jika kalian tanyakan domba itu tentu akan melihatnya." Asma binti Abu Bakar berkata, "Kami tidak tahu ke arah mana Rasulullah SAW pergi.
Lalu tiba-tiba ada seorang laki-laki layaknya jin yang muncul di dataran rendah di Makkah, sambil melantunkan bait-bait syair ini. Sementara orang-orang bisa mendengar dan mencari jejaknya, namun mereka tidak bisa melihat siapa yang mengucapkannya. Bahkan suara itu juga muncul dari dataran Makkah yang tinggi.
Tatkala kami mendengarnya, maka tahulah kami bahwa Rasulullah SAW sudah berjalan ke arah Madinah." 5. Di tengah perjalanan ini Nabi bertemu dengan Abu Buraidah, pemimpin kaumnya. Dia pergi untuk mencari beliau dan Abu Bakar, dengan harapan bisa mendapatkan hadiah yang telah diumumkan Quraisy.
Tatkala dia sudah berhadapan dengan Rasulullah SAW dan beliau mengajaknya berbicara, maka seketika itu dia masuk Islam bersama tujuh puluh orang dari kaumnya. Dia melepas ikat kepalanya dan mengikatkan di tombaknya sebagai bendera, sambil berseru, bahwa pemimpin yang membawa keamanan dan perdamaian telah datang untuk memenuhi dunia dengan keadilan. 6. Di tengah perjalanan, Rasulullah SAW juga bertemu dengan Az-Zubair yang sudah masuk Islam, beserta sekumpulan kafilah dagang yang pulang dari Syam.
Az-Zubair memberikan kain putih kepada beliau dan Abu Bakar.
"Niat Hari Ini: Mengambil hikmah dan meneladani keteladanan Rasulullah SAW dalam peristiwa Perjalanan ke Madinah."